Mangan Opo Sing Ditandur Nandur Opo Sing Dipangan
18 Mei 2026 – Komisi B melakukan
kegiatan silahturahmi
sekaligus ngangsu kaweruh atau menggali ilmu dan pengalaman berharga kepada Bapak TO Suprapto, pendiri
Joglo Tani Indonesia. Dimana Joglo Tani Indonesia telah dicanangkan sebagai monumen dan
wasiat kebangkitan petani Indonesia yang harus terus dijaga dan diteruskan.
Joglo Tani Indonesia
memiliki visi besar, yaitu mewujudkan kemandirian pangan yang dimulai dan
dijalankan oleh setiap keluarga. Konsep ini dibangun di atas tiga pilar
filosofi luhur yang telah teruji sejak lama:
✅ Prinsip Mangan opo sing tandur, Nandur opo sing
dipangan
Ini adalah ajaran
hidup masyarakat Jawa tentang kemandirian dan keberlanjutan. Artinya, kita
mengusahakan sendiri apa yang akan dimakan, dan menanam apa yang memang menjadi
kebutuhan kita. Melalui prinsip ini, setiap keluarga diharapkan tidak lagi
bergantung sepenuhnya pada pasokan dari pasar, serta dapat hidup selaras dan
bertanggung jawab sepenuhnya kepada alam.
✅ Filosofi Oyot, Kayu, Godhong, Kembang, Woh
Sebagai landasan
kehidupan dan kemandirian, nilai ini diibaratkan sebagai satu kesatuan pohon
yang utuh:
·
Oyot (Akar): Fondasi utama berupa iman, keyakinan,
dan kerja keras yang menopang seluruh kehidupan.
·
Kayu (Batang): Melambangkan keteguhan hati, kokoh
pendirian, serta tahan menghadapi tantangan hidup.
·
Godhong (Daun): Bermakna proses belajar dan berbagi
kebaikan, senantiasa memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
·
Kembang (Bunga): Simbol keindahan akhlak, sopan
santun, dan menyebarkan citra baik di tengah masyarakat.
·
Woh (Buah): Hasil nyata dari segala usaha, yang
dapat dinikmati sendiri dan membawa kesejahteraan bagi banyak orang.
✅ Sistem Terpadu Iwak, Iwen, Rojo Koyo
Konsep ini
menciptakan ekosistem pertanian mandiri yang saling melengkapi dan tidak
terbuang percuma:
·
Iwak (Ikan): Sumber protein utama, sekaligus airnya
dapat dimanfaatkan untuk sistem tanam akuaponik.
·
Iwen (Unggas): Pemeliharaan ayam, bebek, dan
sejenisnya sebagai sumber gizi tambahan.
·
Rojo Koyo (Ternak Besar): Pemeliharaan sapi,
kambing, atau domba yang memberikan banyak manfaat.
Ketiganya membentuk
siklus yang berkelanjutan: kotoran hewan diolah menjadi pupuk alami untuk
tanaman, sisa hasil panen menjadi pakan hewan, dan limbah yang tersisa dapat
dimanfaatkan kembali untuk pakan ikan. Dengan begitu, tidak ada unsur yang
terbuang dan terciptalah kehidupan yang makmur dan mandiri.
Bapak TO Suprapto menegaskan
bahwa kemandirian pangan bukanlah hal yang sulit. Dimulai dari halaman rumah
sendiri dan diterapkan oleh setiap keluarga, maka cita-cita menjadikan
Indonesia bangsa yang kuat, sejahtera, dan tidak tergantung pada orang lain
akan segera terwujud. (Humas-Setwan)